“Sum, nasi kucingmu hari ini habis gak di kantin?” tanyaku sore itu menjelang salat ashar.
“Alhamdulillah, Mar setiap aku bawa selalu habis.”
“Wah… seneng ya?”
“Iya, Mar lumayan lho buat penghasilan tambahan.” Boleh juga tuh, Mar kamu jualan apa gitu untuk temen nasiku.
Sekolah sudah mulai sepi dari anak-anak sejak setengah empat tadi. Hanya beberapa yang masih asyik main bola basket itupun lapangannya agak jauh dari kelasku. Sore itu aku duduk termenung di selasar kelas. Kata-kata temenku, Sumi masih terngiang dibenakku.
“Jual apa ya?” gumamku sendiri. Sebenarnya bagiku bukan hal yang baru lagi kata jualan. Sewaktu kuliah pun bisnis ini pernah kurambah. Yach waktu itu jual molen sembari kuliah kutitipkan jualanku itu di toko kelontong dekat kampus. Paginya sambil mengantar yang baru kuambil sisa kemarin. Lumayan juga untuk tambah isi kocek.
“Iya tapi itu dulu…karena aku masih kuliah. Tapi sekarang aku berprofesi sebagai seorang guru. Waktuku habis di sekolah untuk pekerjaan utamaku ini. Mau les privat aja tenaga sudah tidak sampai.” Perang batin antara ingin memperoleh pendapatan tambahan dan gengsi.
Tapi hidup ini perlu realistis dan ini prinsipku sejak dulu.

No comments:
Post a Comment