Monday, May 9, 2011

A Malaysian-Singapore Study Tour: A Long Journey for Longer Memory


Suasana di bandara saat peserta study tour briefing dan last checking dengan para pendamping sekaligus berdoa bersama.

Peserta datang tepat waktu sesuai jadwal yang tertera bahkan sebagian besar mereka datang setengah jam sebelumnya.

Boarding & Leaving for Kuala Lumpur

Setelah menunjukkan semua dokumen-2 di imigrasi, peserta study tour mulai boarding ke pesawat. Mereka masuk secara tertib satu persatu

Setelah hampir 30
menit naik bis, akhirnya tiba di obyek kunjungan pertama yaitu di Putra jaya, khususnya kantor pemerintahan prime minister
Malaysia dan Masjid Putrajaya.

Foto di samping pada mengenakan jubah, sebenarnya
diperuntukkan bagi mereka yang tidak berjilbab. Tapi for the sake of memory jadi kami juga p
akai.

Setelah hampir 30 menit naik bis, akhirnya tiba di obyek kunjungan pertama yaitu di Putra jaya, khususnya kantor pemerintahan prime minister Malaysia dan Masjid Putrajaya.

Foto di samping pada mengenakan jubah, sebenarnya diperuntukkan bagi mereka yang tidak berjilbab. Tapi for the sake of memory jadi kami juga pakai.

Twin Tower merupakan tower kembar yang ada di negara Malaysia. Bangunan ini dari jauh tampak simetris menjulang ke angkasa. Twin Tower dipergunakan sebagai pusat perkantoran dan perbelanjaan.

Twin Tower dibuka untuk umum (khususnya) untuk melalui skybridge mulai pukul 8.00 hingga 12 dengan cara membeli tiket terlebih dahulu. Akan tetapi , karena sistem baru kami tidak dapat memasukinya karena untuk memperoleh tiket harus antri mulai dari jam 6 pagi. Dengan kata lain jika kami memaksa ke tempat ini, objek wisata yang lain tidak terkunjungi. Akhirnya rombongan hanya berfoto dari lokasi yang agak berdekatan.

Sunday, May 8, 2011

Guru Sampingan vs Sampingan Guru

“Sum, nasi kucingmu hari ini habis gak di kantin?” tanyaku sore itu menjelang salat ashar.

“Alhamdulillah, Mar setiap aku bawa selalu habis.”

“Wah… seneng ya?”

“Iya, Mar lumayan lho buat penghasilan tambahan.” Boleh juga tuh, Mar kamu jualan apa gitu untuk temen nasiku.

Sekolah sudah mulai sepi dari anak-anak sejak setengah empat tadi. Hanya beberapa yang masih asyik main bola basket itupun lapangannya agak jauh dari kelasku. Sore itu aku duduk termenung di selasar kelas. Kata-kata temenku, Sumi masih terngiang dibenakku.

“Jual apa ya?” gumamku sendiri. Sebenarnya bagiku bukan hal yang baru lagi kata jualan. Sewaktu kuliah pun bisnis ini pernah kurambah. Yach waktu itu jual molen sembari kuliah kutitipkan jualanku itu di toko kelontong dekat kampus. Paginya sambil mengantar yang baru kuambil sisa kemarin. Lumayan juga untuk tambah isi kocek.

“Iya tapi itu dulu…karena aku masih kuliah. Tapi sekarang aku berprofesi sebagai seorang guru. Waktuku habis di sekolah untuk pekerjaan utamaku ini. Mau les privat aja tenaga sudah tidak sampai.” Perang batin antara ingin memperoleh pendapatan tambahan dan gengsi.

Tapi hidup ini perlu realistis dan ini prinsipku sejak dulu.