MURIDKU, GURU TERBAIKKU
Oleh: Rukadah, S.S.*
Menjadi seorang guru bukanlah cita-citaku. Akan tetapi, keadaan memaksaku untuk bersikap realistis dalam menapaki kehidupan ini. Mengutip pernyataan Bapak Khoiruddin, mantan Rektor UMY, bahwa ada istilah “betul-betul guru”, “kebetulan guru”, dan “guru tidak betul”. Mungkin istilah kedua ini yang layak bagiku.
Sebulan lagi genap empat tahun profesi guru ku geluti. Sungguh kurang bijak bila aku selalu menoleh ke belakang. Mengeluh dan menyesalinya. Bukankah hidup seperti air yang mengalir. Seandainya waktu dapat kuputar kembali. Ingin kutata perjalan sejarah hidup, agar sesuai dengan harapan dan cita-cita. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, itulah hidupku.
Menjadi guru di sekolah tempat aku mengabdi memang sedikit berbeda dengan sekolah pada umumnya. Salah satu contoh adanya Student Advisor (SA) atau wali kelas jika di sekolah lain. Yang membedakan yaitu jika wali kelas mendampingi murid satu kelas hingga kenaikan tingkat. Sedangkan SA mendampingi dan membimbing maksimal 15 siswa dari tingkat pertama hingga lulus. Seorang SA bagaikan Ibu atau Bapak yang mengurusi keperluan; seputar akademik hingga non-akademik. SA adalah sosok pertama yang bertanggung jawab di sekolahan. Dan masalah non-akademik ternyata jauh lebih banyak dan kompleks. Mulai dari masalah pribadi, antar teman, dan masalah-masalah unpredictable (tak terduga) lainnya yang semakin mengajariku untuk selalu menjadi pembelajar.
Heterogenitas siswa dengan berbagai karakter dan background, mulai dari yang super genius, semi genius, biasa-biasa saja, hingga yang membutuhkan ekstra perhatian khusus tertampung di sini. Tipe siswa yang terakhir ini, secara khusus memberikan warna tersendiri dalam mengarungi hari-hariku menjadi seorang guru.
Masih teringat secara gamblang dibenakkku. Di bawah teriknya sinar mentari salah satu siswaku dengan tergopoh-gopoh mengatakan, “Bu, si Lola hilang tak tahu kemana,” kata si Lily teman dekat Lola. “Hilang?” sanggahku dengan penuh ketidak percayaan. Dengan kandungan perutku yang semakin membesar, kucoba melangkahkan kaki dengan sekuat tenaga untuk mencarinya. Tetapi hasilnya nihil. Selang beberapa menit kemudian ia ditemukan di lapangan basket dalam keadaan “pingsan.” Usut punya usut semua itu hanyalah trik untuk mencari perhatian.
Berbeda dengan si Badu. Kenakalan dan prilaku usilnya, sering membuat ulah dari A – Z. Terus terang hal itu begitu menguras tenaga dan pikiran.
Lain lagi dengan si Repti, anaknya cenderung mengekspresikan emosinya secara destruktif. Setiap kali menghadapi murid spesialku ini, jantungku berdetak kencang. Antara takut atau tanggung jawab sebagai seorang guru. Tapi apalah daya, aku adalah gurunya dan “ibu” di sekolah. Sudah sewajarnya aku membantu jika ada masalah. Ternyata ia hanya ingin curhat. Tiap kali ia berprilaku destruktif, kucoba membantu redamkan luapan emosinya dan menjadi “ a good listener.” Hampir satu setengah jam aku bersamanya di pojok ruang kelas. Diam tanpa berkomentar apapun.
Selama kuliah hingga meraih gelar sarjana, tak satu pun dosenku yang mengajarkan teori mengenai penanganan dan pendampingan anak-anak yang “super spesial” itu. Melalui otodidak dan naluri keibuan yang senantiasa meyakinkanku bahwa aku bisa mendampingi dan bersahabat dengan mereka. Tuhan menciptakan manusia dengan beragam keunikan, termasuk murid dan diriku yang unik. Keunikan untuk senantiasa belajar dan peka dari hal-hal yang sepele di sekitarku, belajar memahami sebelum menuntut untuk dipahami—On Becoming a Learner.
Pengalaman adalah guru yang terbaik untuk meningkatkan kualitas seseorang. Dari pengalaman orang akan cenderung lebih bijak dalam bersikap dan bertindak untuk memecahkan suatu persoalan. Andrias Harefa dalam bukunya Menjadi Manusia Pembelajar mengatakan bahwa, belum layak kita ini menyebut diri kita menjadi si A, si B, si Ujang, dan seterusnya. Karena pada dasarnya kita masih dalam proses “untuk menjadi” si A, si B, si Ujang itu sendiri hingga akhir hayat. Beberapa pertanyaan eksistensial seperti siapakah aku? dari mana aku datang? apa yang menjadi tanggungjawabku? dan kepada siapa aku bertanggung jawab? Hal ini pantaslah direnungkan sebagai seorang guru. Dengan demikian, dalam mengerjakan segala sesuatu hendaklah didasari keikhlasan, sumeleh (pasrah) dan sumringah (senang).
Manusia sebagai khalifah dimuka bumi. Itu berarti Tuhan memberikan tanggung jawab kepada umat manusia, dalam menjalankan segala perintah-Nya. Apapun bentuk profesi yang dipilih oleh manusia terdapat tanggung jawab didalamnya. Pilihan tanpa konsekwensi adalah omong kosong.
Profesi sebagai guru adalah amanah Tuhan yang harus kuemban dan kulaksanakan semaksimal mungkin. Nakal, bandel, berisik di kelas, dan sering membuat jengkel seorang guru. Itulah murid dan itu wajar sekali diusia mereka. Sungguh cara yang kurang bijaksana bila mereka dituntut untuk berpikir seperti apa yang dipikiran orang dewasa.
Sejauh mana ikhtiar sebagai seorang pendidik apakah akan larut dengan perilaku innocence mereka? Padahal dibalik itu semua tersimpan talenta mutiara, jiwa-jiwa pemenang, dan penakluk dunia. Pertanyaannya apakah kita akan membantu menyalakan api itu atau sebaliknya memadamkannya, hanya karena kelemahan kita dalam membaca sesuatu. Seringnya Pak guru dan Bu guru bertatap muka dengan murid, berdampingan dengan mereka dari hari ke hari adalah aset dan tabungan kita di dunia. Insyaallah kelak akan kita tuai di akherat nanti. Jadi kalau aset itu tidak dijaga dengan baik lalu apa yang akan kita andalkan? Bahkan murid adalah sumber utama kita untuk senantiasa belajar dan belajar, mentransfer ilmu, pembentukan karakter, dan pendewasaan diri. Orang bijak mengatakan, jadilah telaga yang walaupun dimasuki berbagai kotoran, namun airnya tetap jernih. Bersyukurlah dan berlapanglah kita menjadi seorang guru. Terima kasih, muridku.
Wallahu a’lam bissawab.
Sleman, Maret 2010
· Penulis adalah staf pendidik
di SMP Budi Mulia Dua

inspiring teacher bu...salam kenal Mr.aan SD Seturan ini blog saya bu...
ReplyDeletewww.goligog.wordpress.com
www.aanituaku.blogspot.com