AKU YANG SELALU OPTIMIS
& MIRACLES COME TRUE
Diary ini ku tulis ulang dari tulisan tanganku yang selalu kuungkapkan di buku kerjaku sekaligus diaryku. Sengaja semua diaryku ku torehkan di bagian bulan kelahiranku. Lembaran Mei sudah hampir penuh dengan coretan tanganku...coretan tentang keoptimisanku bahwa Allah pasti akan memberi dan mengabulkan do’a dan keinginan baikku. MIRACLES WILL COME TRUE….!!!
Terkadang antara sebuah cita-cita mulia begitu tipis tabirnya dengan ambisi yang penuh dengan nafsu. Semenjak kecil Bapakku selalu memberi semangat untuk senantiasa belajar dan mengenyam ilmu pendidikan yang lebih tinggi darinya. Pesan itu senantiasa tertancap dalam di sanubariku dan tetap mengobarkan semangatku. Setelah gelar Sarjana kusandang kehausanku untuk mengenyam pendidikan ke program pasca sarjana begitu kuat.
Hampir tiap minggu sekali keinginanku itu kuutarakan kepada suamiku, dan ia mendukungku. Tiap saat teman-temanku mengutarakan impiannya, aku mengutarakan impianku untuk dapat duduk dan merasakan kuliah dari para profesor. Tiap sholat doa itu selalu kupanjatkan pada Allah, dan keoptimisan yang selalu meyakinkanku bahwa Allah pasti akan mengabulkan do’aku.
“Allahumma innaka ta’lamu sirri wa’alaa niyyati faqbal ma’dziratii.”
Tiap saat aku berkenalan atau melihat seseorang yang sedang menempuh atau sudah lulus S2 kutartilkan dalam hati do’a andalanku dengan penuh keoptimisan. “Allahumma innaka ta’lamu sirri wa’alaa niyyati faqbal ma’dziratii.” Jika diartikan kuranglebihnya Ya Allah sesungguhnya engkau Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam niatku atau hatiku. Do’a yang selalu kupanjatkan semenjak saya mengetahui dari seorang penceramah kala aku duduk dibangku SMP.
Suatu hari aku bercerita banyak hal dengan Neti sahabatku yang sudah lebih dulu memperoleh kesempatan kuliah S2 dan Ita yang semakin membuatku optimis menceburkan diri ke jalan yang benar. Aku berterimakasih dengan teman-teman yang perhatian, penuh kasih sayang, dan selalu meringankan disaat aku membutuhkan.
“Ru, visualisasikan impianmu itu atau tuliskanlah dalam secarik kertas!”
“Benar, Net?”
“Itu berdasarkan pengalamanku” jawabnya meyakinkan.
Kukeluarkan selembar kertas berwarna kuning ukuran 3x4 lalu kutuliskan apa yang menjadi anganku. Nomor 1 sudah pasti keinginanku melanjutkan studi baru diikuti keinginanku memiliki rumah sendiri. Tulisan itu lalu kuselipkan di dalam dompet warna hitamku yang sudah memberikan sinyal untuk diganti. Kulupakan coretanku yang ada di dompet namun setiap sholat dan dalam do’aku aku tersenyum seakan Allah mengiyakan tiap untaian permohonanku.
Mungkin bagi mereka yang berduit tidak harus membacakan bejibun mantra-mantra do’a, minta pendapat kesana-kesini seperti yang kulakukan. Tapi dengan gaji yang alhamdulillah cukup untuk keperluan keluarga sehari-hari terus terang terasa berat dan hampir tertatih-tatih hingga aku akhirnya membuat ijab qobul dengan Program Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan. Kenapa tidak cari beasiswa? Itu cerita lain yang tidak perlu kuungkap disini. Yang jelas aku akan selalu bersama optimisku bisa bangkit dan bisa melampaui The Road Not Taken yang telah kupilih.
25 Februari 2010 Miracle 1
Tanggal 25 adalah tanggal yang paling lama datangnya dalam tiap bulan. Inilah tanggal gajian di kantorku. 25 Februari 2010, ketika ku cek saldoku sudah bertambah itu artinya gajiku bulan ini sudah masuk. Aku mohon restu suamiku.
“Daftarlah, Jo dengan Bismillah. Pasti Bisa” jawab suamiku dengan panggilan Jo dari kata Bojo. Bahkan SMS itu masih kusimpan dengan baik di folder hp-ku.
Aku tersenyum antara bahagia sekaligus sedikit gamang menghitung-hitung danaku jika aku masuk S2. Oh lalu aku mengingatkanku sendiri bahwa Allah maha tahu akan kebutuhanku dan pasti memberikan kemudahan niat baikku.
Setelah aku gajian aku mengambil formulir ke kampus tujuanku. Di Fly over Janti aku mencari-cari bank BNI yang sama dengan alamat rekening kampus tersebut. Setahuku Bank BNI terdekat adalah di Jl. Gejayan tapi setelah aku melewati traffic light Babarsari tanpa sengaja mataku menoleh ke kiri jalan dan Subhanallah itulah kantor Bank yang kucari. Karena agak kebablasan sedikit motorku kuputar balik. Itulah kemudahan pertama yang Allah berikan hari itu.
Bukti pembayaran sebagai mahasiswa sudah kupegang aku segera sms sang motivatorku, ya suamiku Mas Edy yang dengan sabar mendampingiku suka maupun duka mengabarkan bahwa aku sudah mendaftarkan diri di UAD.
3 Maret 2010 Miracle 2
Salah satu persyaratan administrasi yang harus segera dilengkapi adalah referensi dari pembimbing akademik sewaktu kuliah S1 ku. Tiga Maret 2010 aku ke kampus Universitas Sanata Dharma bermaksud menemui Bu Dewi pembimbing akademikku dulu. Kampusku ini banyak sekali perubahannya jauh lebih bagus desainnya. Aku langsung menuju ruang sekretariat. Setelah 5 tahun tidak ketemu ternyata staff sekretariat tidak banyak berubah baik secara fisik maupun pelayanannya.
“Permisi Mbak Nik, bisakah saya ketemu Ms. Dewi?”
“Ada keperluan apa ya Ms. Dewi sedang mengajar dan baru selesai 1 jam lagi” jawabnya sambil tersenyum ramah.
“Mau minta surat rekomendasi. Baik, Mbak saya tunggu di hall aja.”
Aku cukup gelisah karena harus nunggu 1 jam lagi padahal pada waktu yang bersamaan ada rapat di sekolah tempat kerjaku. Tapi kalo ditinggal juga tanggung.
Aku putuskan ke koperasi di samping sekretariat untuk beli air mineral dan permen. Belum sempat petugas koperasi mengulurkan uang kembalian receh ke tanganku tanpa sengaja aku menoleh dan melihat sosok Bu Dewi yang sedang lewat. Uang kembalianku kutinggal dan aku menyongsong Bu Dewi dan luar biasa hanya kurang dari 10 menit surat yang kucari sudah ada di genggamanku. Subhanallah betapa Kasihnya Kau selalu memberikan kemudahan untuk kuliah S2 ku.
26 Maret 2010 Miracle 3
Salah satu program sekolah SMP Budi Mulia Dua adalah magang atau kelas sosial. Siswa secara langsung praktek bekerja di instansi atau kantor rekanan sekolah kami.
Hari ini aku dan Martin bertugas supervisi anak-anak yang melakukan kelas sosial di Dapur Kuliner BMD. Sejak dalam perjalanan sebelumnya aku bilang dia untuk mengantrkanku ke BNI jalan Solo untuk membayar angsuran sekolahku.
Alhamdulillah Allah memberikan kemurahan dan kemudahan rejeki kepada keluargaku sehingga pada hari ini aku bisa mengangsur kuliahku Rp 1.400.000,- tepat pukul 10.30. Tanda bukti pembayaran kusimpan baik-baik dengan kuiringi do’a dan harapan bahwa Allah akan selalu membimbingku, memudahkan urusan dunia dan akhiratku beserta anak cucuku.
| Ya Allah, semoga setiap kebaikan yang hamba lakukan hanya untuk beribadah kepada-Mu, tanpa ada niat sedikitpun untuk ria, ujub, atau mengharap pujian apapun dari makhluk-Mu. Ridhomu, Berkahmu itu harapanku |
3 Mei 2010 Miracle 4
Hari ini sungguh keajaiban yang kesekian kalinya Allah memberikan kemudahan kepadaku. Pak Amien memberikan hadiah 100 dollar. Terbersit untuk memegang saja belum pernah apalagi memiliki. Tapi ini kenyataan bahwa hari ini aku menerima U$100. Subhanallah alhamdulillah, Pak Amien. Semoga uang ini berkah saya niatkan untuk membiayai studi S2 ku. Salah satu yang ingin kuteladani dari Pak Amien yaitu Kesederhanaan, kesahajaan, dan kedermawanannya untuk kemaslahatan umat. Semoga saya bisa meneladaninya. Amiin.
“Pandai-pandailah kalian bersyukur dengan nikmat yang Allah berikan. Bersyukur bukan berarti ketika mendapatkan sesuatu bilang Alhamdulillah saja. Tetapi dengan apa yang diberikan Allah kalian mampu meningkatkan kualitas dirimu menjadi lebih baik.
Salah satu pesan Pak Amien yang selalu menancap di hatiku dan kupegang teguh adalah pesan untuk selalu bersyukur.
Insyaallah uang Pak Amien tadi berkah meskipun kuniatkan untuk membayai kuliahku, namun tiba-tiba dari keluargaku Jepara ada kabar duka bahwa ibu asuhku sewaktu SMP telah pulang ke rahmatullah untuk selamanya karena serangan stroke yang telah menahun.Bismillah aku niatkan takziyah ke Jepara. Alhamdulillah juga dengan uang tersebut aku bisa menserviskan laptopku yang sudah mulai cari perhatian khusus.
Ya Allah masih pantaskah hamba ini pesimis terhadap kagungan-Mu? Kau selalu memberikan bukti akan belas kasih-Mu untukku semoga menjadi lebih baik. Alhamdulillah semoga Allah membalas kebaikan Pak Amien. Jazakumullah.
26 Juni 2010 Miracle 5
Tanggal 25 Juli nanti adalah deadline heregristrasi Pasca Sarjana UAD. Gundah Gulana dan ciut nyali adalah perasaan yang sedang berkecamuk dan melanda pikiranku karena belum ada biaya untuk melengkapi 30% pembayaran yang disyaratkan. Satu-satunya aset yang aku andalkan adalah arisan Ibu-ibu di perumahan tempat kostku.
Hari ini tepat tanggal 26 arisan rutin bulanan tiba. Sempat saya sampaikan ke koordinator maksud dan tujuanku untuk meminta arisan. Tapi lagi-lagi tidak bisa karena anggota yang lain juga memerlukan. Pupus sudah harapanku kecuali menunggu “Miracle” dari nama undian yang keluar. Ku kuatkan do’a dalam hatiku semoga namaku yang keluar.
Bu Yuni mengeluarkan 1 gulungan kertas kecil yaitu undian nama-nama yang antri keluar. Kebetulan saya tepat di samping beliau jadi secara otomatis saya yang membuka.
Subhanallah itu namaku dan 2 berarti aku ikut arisan 2 orang dengan mendapatkan uang dobel. Alhamdulillah uang Rp 1.200.000,- yang saya dapatkan dari arisan 600 ribu untuk mengangsur pembayaran, 150 ribu untuk Bapak Ibuku dan sisanya untuk kebutuhan sehari-hariku termasuk membeli wajan untuk masak kerang dan mainan “Bego” untuk anak semata wayangku yang semenjak berangkat arisan merengek minta dibelikan. Saya janjikan jika aku dapat arisan akan kubelikan mainan kesayangannya itu.
Keluarnya namaku sebagai pemenang arisan inilah bukti bahwa Allah itu Maha Tahu akan kebutuhanku. Betapa dholimnya aku jika tidak ku syukuri nikmat-Mu. Semoga ku menjadi insan yang tetap semangat dan pantang menyerah dengan keterbatasan keadaan. Amiin...Amiin...Amiiin Ya robbal ‘alamiin.
Sabtu, 26 September 2010 Miracle 6
Hari ini aku, suamiku dan anakku sudah berangkat ke Amplaz khususnya Twenty One tepatnya karena para guru dengan keluarganya masing-masing telah memesan tiket untuk menonton film terbaru “Sang Pencerah”, meskipun akhirnya aku dan keluargaku kecewa karena diundur jamnya dari jadwal yang telah dijanjikan panitia padahal pukul 13.15 aku harus masuk kuliah umum. Kuliah perdana setelah aku tercatat sebagai mahasiswa program Pascasarjana PBI UAD. Singkat kata kami kecewa dan akhirnya pulang.
Akan tetapi kekecewaan itu tidak seberapa dibanding dengan kegembiraanku sebelum berangkat ke Amplaz. Seperti biasa tanggal 25 adalah gajianku. Aku dan suami mampir ke ATM dan mengambil uang secukupnya untuk keperluan seminggu ke depan. Betapa terkejutnya waktu kulihat saldoku jauh melebihi gajiku. Antara bahagia dan penasaran.
Hari Senin berikutnya aku telepon bagian administrasi untuk minta penjelasan mengenai uang yang ada di rekeningku. Ternyata kenaikan gaji dan rapelan dari bulan Juli itulah jawabannya. Mungkin bagi orang lain jumlah itu tidak seberapa, tetapi bagiku nilainya bagaikan juta permata. Beberapa bulan sejak aku mendaftarkan diri sebagai mahasiswa S2 sempat khawatir khususnya dengan keuangan yang hanya cukup untuk makan sehari-hari. Akan tetapi rupanya tekad dan optimismeku itulah yang menguatkanku untuk tegar dan melangkah.
Aku selalu optimis bahwa rejeki untuk keluargaku pasti akan keluar dari segala penjuru. Dan banyak bukti yang sudah kualami. Allah menambahkan rejekiku dengan cara menambahkannya melalui gaji kerjaku.
Ya Allah, sekiranya aku tidak bersyukur atas nikmat-Mu, pasti akulah orang yang paling merugi.
Ya Allah, semoga keluargaku menjadi para insan yang pandai bersyukur atas nikmat-Mu sekecil apapun itu.
Bersambung…..
